Demonstrasi Tanpa Strategi: Antara Keberanian & Kepentingan, Oleh: Reza Ekaputra

|

18 Views

ACTANEWS.CO.IDOPINI, Kepekaan terhadap isu pelecehan seksual di lingkungan kampus merupakan cerminan nurani kolektif yang patut diapresiasi. Keberanian mahasiswa untuk bersuara adalah bagian dari tradisi kritis dunia akademik dan menjadi pengingat bahwa kampus harus senantiasa berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan.

Namun, keberanian semata tidak cukup. Dalam ruang akademik, setiap ekspresi protes semestinya berpijak pada etika gerakan dan tata krama forum. Aksi yang tidak mempertimbangkan etika justru berisiko mereduksi pesan moral yang ingin disampaikan. Ketika cara menyampaikan aspirasi melampaui batas kepantasan forum, substansi persoalan dapat tertutupi oleh bentuk aksi itu sendiri.

Kampus adalah ruang dialog, bukan sekadar arena pelampiasan emosi. Forum resmi, terlebih yang melibatkan pejabat pusat, memiliki aturan tidak tertulis yang harus dihormati bersama. Mengabaikan etika forum bukan hanya soal ketidaksopanan, tetapi juga mencerminkan kegagalan memahami strategi perubahan yang efektif dalam konteks politik akademik.

Aksi yang tidak beretika berpotensi menggeser isu pelecehan seksual dari perjuangan keadilan menjadi polemik tata tertib. Akibatnya, perhatian publik tidak lagi tertuju pada perlindungan korban dan pembenahan sistem, melainkan pada perdebatan tentang cara dan sikap. Dalam kondisi seperti ini, yang dirugikan bukan hanya institusi, tetapi juga korban itu sendiri.

Etika bukanlah alat pembungkaman kritik. Justru etika adalah sarana agar kritik memiliki legitimasi, daya tekan, dan dampak jangka panjang. Gerakan yang etis menunjukkan kedewasaan intelektual, kemampuan membaca ruang, serta kesadaran bahwa perubahan kebijakan membutuhkan pendekatan yang cerdas dan terukur.

Sudah saatnya gerakan mahasiswa menguatkan kembali nilai-nilai etika dalam setiap aksinya. Kampus membutuhkan kritik yang tajam, tetapi juga beradab; berani, tetapi bertanggung jawab. Tanpa etika, gerakan kehilangan arah. Dengan etika, perjuangan memiliki masa depan. (RA)

Gladys Nabila Avatar

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *