PALOPO, ACTANEWS.CO.ID – OPINI, Dalam beberapa tahun terakhir, Kota Palopo mulai menunjukkan wajah baru. Pembangunan kawasan perumahan, ruko, pusat perdagangan, hingga ruang-ruang usaha terus bertambah. Fenomena ini sering dimaknai sebagai tanda bahwa Palopo sedang bergerak menuju kota investasi. Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong pengembangan ekonomi kreatif sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi daerah. Pertanyaannya, apakah kedua sektor ini sudah berjalan beriringan, atau justru masih tumbuh sendiri-sendiri?
Saya melihat sektor properti tidak lagi sekadar berbicara tentang pembangunan rumah atau gedung. Properti telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi. Ketika sebuah kawasan baru dibangun, aktivitas ekonomi ikut bergerak. UMKM bermunculan, kedai kopi bertambah, ruang kerja bersama mulai dibutuhkan, dan berbagai jasa kreatif seperti desain interior, arsitektur, fotografi, pemasaran digital, hingga pengelolaan konten memperoleh peluang baru. Di sinilah sektor properti sebenarnya memiliki hubungan yang erat dengan ekonomi kreatif.
Namun, saya menilai hubungan tersebut di Palopo belum dimanfaatkan secara maksimal. Pembangunan properti masih lebih banyak dipahami sebagai investasi fisik, bukan sebagai upaya membangun kawasan ekonomi yang produktif. Banyak kawasan baru yang berdiri, tetapi belum sepenuhnya mampu menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Akibatnya, pertumbuhan bangunan belum selalu diikuti oleh pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Hal lain yang perlu dikritisi adalah orientasi pembangunan. Sering kali keberhasilan diukur dari banyaknya proyek yang berjalan atau nilai investasi yang masuk. Padahal, ukuran yang lebih penting adalah dampaknya bagi masyarakat. Apakah pembangunan tersebut menciptakan lapangan kerja? Apakah membuka ruang usaha bagi pelaku UMKM? Apakah meningkatkan nilai ekonomi kawasan tanpa mengorbankan akses masyarakat terhadap hunian yang layak? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi dasar dalam menilai keberhasilan investasi.
Palopo memiliki posisi yang strategis sebagai pusat perdagangan dan jasa di kawasan Luwu Raya. Kondisi ini menjadi modal yang kuat untuk menarik investor. Namun, investasi yang dibutuhkan bukan sekadar investasi yang membangun gedung, melainkan investasi yang mampu membangun ekosistem. Kawasan properti seharusnya dirancang agar menjadi ruang bertumbuh bagi pelaku ekonomi kreatif, tempat lahirnya usaha-usaha baru, serta pusat kolaborasi antara dunia usaha, komunitas, dan generasi muda.
Menurut saya, pemerintah daerah perlu lebih berani menyusun arah pembangunan yang menghubungkan sektor properti dengan ekonomi kreatif. Setiap kawasan baru idealnya menyediakan ruang komersial yang terjangkau bagi UMKM, ruang publik yang mendukung aktivitas komunitas, serta fasilitas yang mendorong berkembangnya industri kreatif lokal. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menghasilkan bangunan baru, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Saya percaya Palopo memiliki peluang untuk menjadi salah satu kota investasi yang diperhitungkan di Sulawesi Selatan. Akan tetapi, peluang tersebut hanya akan menjadi kenyataan apabila investasi diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif, bukan sekadar meningkatkan nilai aset. Kota yang menarik bagi investor bukan hanya kota yang dipenuhi bangunan, tetapi kota yang ekonominya hidup, masyarakatnya produktif, dan ruang-ruang usahanya terus melahirkan inovasi.
Pada akhirnya, masa depan Palopo tidak ditentukan oleh seberapa banyak proyek properti yang dibangun, melainkan oleh kemampuan menjadikan setiap pembangunan sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Ketika sektor properti mampu tumbuh bersama ekonomi kreatif, investasi tidak lagi hanya menguntungkan pemilik modal, tetapi juga menjadi jalan bagi peningkatan kesejahteraan warga. Di situlah Palopo dapat membuktikan dirinya sebagai kota investasi yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga bertumbuh secara ekonomi dan sosial. (RA)

Leave a Reply