BNNK Tana Toraja Ungkap Modus Peredaran Narkotika Sistem ‘Tempel’ Asal Palopo

|

22 Views

MAKALE, ACTANEWS.CO.ID — Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Tana Toraja mengungkap jaringan peredaran barang haram asal Palopo yang memanfaatkan platform Instagram dan sistem ‘tempel’ tanpa tatap muka.

Dalam operasi maraton selama tiga hari, 22–24 Maret 2026, petugas mengamankan 10 orang terduga pelaku yang beroperasi di wilayah Toraja Utara dan Tana Toraja.

Kepala BNNK Tana Toraja Ustim Pangaraian menjelaskan, jaringan besar ini diduga dikendalikan dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bollangi, Gowa. Para pelaku menggunakan 14 titik lokasi penyimpanan rahasia untuk mendistribusikan narkotika tersebut kepada pengguna akhir tanpa harus bertemu langsung.

“Modusnya kini bergeser dari sistem konvensional. Tidak ada lagi pertemuan fisik atau cash on delivery (COD). Semua komunikasi dilakukan lewat Instagram, lalu barang diletakkan di titik tertentu. Dalam sehari, satu titik tempel bisa melayani hingga 300 transaksi,” ujar Ustim di Makale, Jumat (27/3/2026).

Salah satu dari sepuluh orang yang ditangkap adalah seorang perempuan berinisial C, yang diketahui bekerja sebagai pegawai di Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja. Saat ini, tujuh pelaku telah dibawa ke BNN Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar, sementara tiga lainnya masih menjalani pemeriksaan intensif di Makale.

Tren Peningkatan Kasus

Untuk diketahui, pengungkapan modus baru ini terjadi di tengah tren peningkatan kasus narkotika yang mengkhawatirkan di Sulawesi Selatan. Berdasarkan data kepolisian, jumlah kasus narkoba di wilayah ini menunjukkan grafik meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir.

Pada tahun 2023, Polda Sulsel menangani sebanyak 2.217 kasus dengan 3.153 tersangka. Angka ini melonjak pada tahun 2024 menjadi 2.576 perkara. Tren kenaikan terus berlanjut hingga tahun 2025, di mana kepolisian mencatat sebanyak 2.789 kasus dengan jumlah tersangka mencapai 4.235 orang.

Kondisi ini menempatkan Sulawesi Selatan di peringkat kelima nasional dalam status darurat narkotika pada tahun 2024. Di tingkat lokal, Polres Toraja Utara juga mencatat peningkatan pengungkapan kasus sepanjang tahun 2025, yang menegaskan bahwa wilayah pegunungan ini tidak lagi sekadar menjadi daerah lintasan, melainkan pasar potensial bagi para bandar.

Pusaran Isu dan Kritik Publik

Eskalasi kasus ini memperkuat kritik publik, termasuk dari Irma Tendengan, seorang aparatur sipil negara (ASN) asal Toraja Utara yang bertugas di Kabupaten Mappi, Papua Selatan. Irma sempat menyuarakan dugaan aliran dana bandar narkoba senilai Rp 11 miliar ke tim pemenangan kepala daerah pada Pilkada 2024, yang kemudian berujung pada pelaporan balik oleh Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong atas tuduhan pencemaran nama baik.

Pengurus Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Sulawesi Selatan, Dandi Sahrul, menilai data peningkatan ini adalah alarm keras bagi ketahanan sosial masyarakat Sulsel.

“Data menunjukkan kenaikan kasus yang konsisten setiap tahun. Masuknya narkoba dari Palopo ke Toraja melalui modus digital adalah ancaman sistemik. Aparat dan pemerintah daerah harus bergerak lebih dari sekadar menangkap kurir; mereka harus memutus rantai pasokan dari hulu,” tegas Dandi.

BNNK Tana Toraja memastikan akan terus mengembangkan penyelidikan untuk mengejar para perantara atau ‘kuda-kuda’ yang mendistribusikan barang haram tersebut. Sinergi data dan laporan masyarakat menjadi kunci untuk membongkar jaringan yang lebih besar di wilayah tersebut. (RA)

Gladys Nabila Avatar

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *